Sabtu, 14 Februari 2015

JEMBATAN BALI MANDARA

5 Fakta Unik Jembatan Tol Bali Mandara

Tol Bali Mandara baru saja diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin, (23/9). Tol ini merupakan satu-satunya tol yang ada di Bali yang menghubungkan antara Bandara Ngurah Rai di Nusa Dua dengan Pelabuhan Benoa Denpasar. Dikebut pembangunannya alih-alih nanti akan digunakan sebagai akses jalan bagi para peserta KTT APEC awal Oktober 2013, tol ini memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh tol-tol lain yang pernah dibangun di Indonesia.
Tol Bali Mandara

Berikut ini lima keunikan yang dimiliki Tol Bali Mandara.

Pertama, tol ini dikerjakan dalam waktu singkat hanya 14 bulan dan dikerjakan oleh anak bangsa. Selain itu tol ini merupakan tol kedua yang berdiri di atas laut. Bukan yang pertama karena  sebelumnya sudah ada tol atas laut yakni Suramadu.Panjang jembatan tol di Bali ini hampir sama dengan Penang Bridge di Malaysia yang panjangnya mencapai 13,5 km, atau Union Bridge sepanjang 12,9 km di Kanada. Tol Bali Mandara menggunakan pondasi tiang pancang sebanyak 14 ribu titik, yang membutuhkan tiang pancang sebanyak 35 ribu batang, kalau diukur panjangnya sekitar 325 ribu meter.
Kedua, Motor boleh masuk. Jika bersepeda motor di tol-tol lain  merupakan pelanggaran lalu lintas maka lain halnya jika Anda berkendara motor di tol ini. Di sini Anda dapat bebas naik motor tanpa takut polisi menilang karena Tol Bali Mandara ada jalur khusus sepeda motor di sayap kiri dan kanan jalan tol itu.
Ketiga, Tol Bali Mandara merupakan tol terindah. Sebab,  jika melaju di atasnya pada sore hari dapat menyaksikan sunset, hijaunya mangrove karena lokasinya berdekatan dengan mangrove Bali. Belum lagi lokasinya juga tak jauh dari Bandara Ngurah Rai, jadi Anda dapat melihat lalu lintas pesawat di atas kepala, serta aktivitas nelayan yang gemerlap di malam harinya.


Tol Bali Mandara
Keempat, Tol sekaligus objek wisata. Jarang-jarang ini terjadi dimana tol yang biasanya hanya digunakan sebagai tempat mobil-mobil melaju, Tol Bali Mandara juga difungsikan sebagai tempat wisata alternatif di Bali Selatan.
Kelima. Tol Bali Mandara mempunyai alat pengukur kecepatan angin. Alat ini fungsinya untuk mengantisipasi ancaman kecepatan angin di atas laut. Jika kecepatan angin terpantau 40 kilometer per jam maka tol akan ditutup untuk sementara. Menarik bukan? jadi buruan Anda mencobanya mumpung dalam waktu seminggu ini PT Jasamarga Balitol, anak usaha PT Jasa Marga Tbk, menggratiskan Tol Bali Mandara. 



JEMBATAN TUKAD BANGKUNG

Jembatan Tukad Bangkung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jembatan Tukad Bangkung
Jembatan Tukad Bangkung di Desa Plaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, Indonesia, diresmikan penggunaannya pada 19 Desember 2006. Jembatan yang menghubungkan tiga kabupaten, masing-masing Badung, Bangli, dan Buleleng itu menjadi jembatan terpanjang di Bali dan diklaim sebagai tertinggi di Asia.
Jembatan Tukad Bangkung mempunyai panjang 360 meter, lebar 9,6 meter, dengan pilar tertinggi mencapai 71,14 meter, dan pondasi pilar 41 meter di bawah tanah. Jembatan itu berteknologi balanced cantilever, dengan perkiraan usia pakai selama 100 tahun.
Dengan alasan supaya tidak mengurangi pemandangan di sekitarnya, jembatan itu tidak dibangun dengan atap di atasnya. Konstruksi jembatan itu diperkirakan tahan terhadap gempa hingga 7 skala Richter. Jembatan itu menggantikan jembatan lama yang letaknya berada 500 meter di arah selatan Jembatan Tukad Bangkung.Diperlukan dana Rp 49 miliar lebih untuk membangun jembatan itu. Dana itu berasal murni dari APBD Provinsi Bali, dengan sistem multiyears sejak tahun 2001 lalu. Pembangunan jembatan itu sekaligus memangkas jarak di jembatan lama sepanjang 6 kilometer.

JEMBATAN TOL BALI


Bali punya jembatan tol terpanjang di Indonesia

| 18.883 Views
Bali punya jembatan tol terpanjang di Indonesia
Sejumlah pekerja menyelesaikan pembangunan jalan tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa, di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/4). Jalan tol pertama di Pulau Bali itu direncanakan selesai pada pertengahan 2013 sebelum digelarnya pertemuan APEC pada bulan Oktober 2013 dan diharapkan bisa meningkatkan aksesibilitas dan mengurai kemacetan di kawasan tersebut.(ANTARA/Andika Wahyu)
Jakarta (ANTARA News) - PT Jasa Marga Tbk mengumumkan bahwa Pulau Bali sebagai destinasi wisata utama di Indonesia, akan segera memiliki jembatan tol terpanjang di dalam negeri dengan lintasan sekitar 12,7 kilometer.

"Jembatan tol ini dibangun oleh konsorsium BUMN dipimpin oleh Jasa Marga dan sekitar 10 km berada di atas laut," kata Komisaris Jasa Marga Ibnu Purna Muchtar kepada pers di Denpasar, Senin.

Dia menjelaskannya, panjang jembatan tol di Bali ini hampir sama dengan "Penang Bridge" di Malaysia yang panjangnya mencapai 13,5 KM atau "Union Bridge" sepanjang 12,9 KM di Kanada.

"Boleh jadi, jembatan tol ini terindah di dunia dan akan menghubungkan Nusa Dua, Bandara Ngurah Rai dan Benoa. Dari Benoa, jalan ini akan terhubung ke arah Sanur dan Denpasar melalui Bypass Ngurah Rai," katanya.

Saat ini, masyarakat dari arah Denpasar, Kuta atau Bandara Ngurah Rai yang akan menuju Nusa Dua, jalan satu-satunya hanya melalui Jalan Raya Bypass Ngurah Rai.

Jalan yang beroperasi sejak tahun 1960 tersebut saat ini bebannya sudah semakin berat.

"Setiap pagi dan sore hari, kepadatan lalu lintas bisa ditemui di sekitar lampu merah yang ada di sekitar Bandara Ngurah Rai atau Simpang Siur yang menuju ke Denpasar," katanya.

Bahkan, menurut sebuah survei, lanjutnya, jumlah kendaraan roda empat atau lebih yang melintas di Bypass Ngurah Rai setiap harinya mencapai lebih dari 40 ribu. Belum lagi jumlah sepeda motor yang melintas mencapai 56 ribu lebih.

"Bisa dibayangkan, bila terjadi kecelakaan yang mengakibatkan tertutupnya jalur Bypass di pertigaan Bandara Ngurah Rai, maka arus kendaraan dari Kuta atau Denpasar yang akan menuju Nusa Dua akan terputus," katanya.

Oleh karenanya, keberadaan jalan alternatif yang menghubungkan ketiga daerah wisata tersebut sangat dibutuhkan masyarakat.

"Terutama, ketika jalan by pass mengalami gangguan, pengendara kendaraan dapat melalui jalan alternatif ini dan terhindar dari kepadatan lalu lintas di beberapa titik kemacetan tersebut," katanya.

Dengan demikian, tambah Ibnu, waktu tempuh untuk mencapai tujuan bisa menjadi lebih cepat.

Ibnu juga menyebut bahwa waktu tempuh Benoa-Nusa Dua pada saat jam sibuk mencapai satu-sampai dua jam lebih.

Namun dengan bila jembatan tol ini selesai, maka waktu tempuh yang dibutuhkan dari Benoa ke Nusa Dua hanya sekitar 10-15 menit.

Tercepat dibangun
Pada bagian lain, Direktur Pengembangan Usaha PT Jasa Marga Abdul Hadi menyebut bahwa proyek Jembatan Tol Bali (JTB) ini adalah tercepat dibangun di Indonesia.

"Proyek senilai Rp2,4 triliun ini dikerjakan oleh Jasa Marga bersama konsorsium BUMN lainnya dengan konsep konstruksi `design and built` pertama di Indonesia," katanya.

Selain karena pembebasan lahannya relatif sedikit, juga memberikan kebebasan berkreativitas bagi kontraktor sehingga memiliki efisiensi yang tinggi dan terbukti menghemat biaya konstruksi sekitar Rp330 miliar.

"Karena itu, lebih cepat empat bulan dari target 18 bulan," katanya.

Tidak hanya itu, lanjut Abdul Hadi, JTB juga memberikan kesempatan kepada pengguna sepeda motor untuk ikut menikmati fasilitas tol pertama di Bali ini.

"Jadi, mirip seperti di jembatan tol Surabaya-Madura (Suramadu)," katanya.

Oleh karena itu, dia memastikan, JTB selain menjadi ikon baru bagi Bali, juga menambah daya tarik wisata baru bagi Pulau Dewata.

"Dampaknya, secara ekonomi, Bali juga akan tumbuh," katanya.

Abdul Hadi menambahkan, saat dioperasikan nanti, JTB mengusulkan tarif untuk kendaraan golongan 1 adalah Rp10 ribu dan sepeda motor Rp4 ribu.

"Studi proyek menyebut, saat dioperasikan, lalu lintas hariannya mencapai 38 ribu," katanya sambil menambahkan bahwa umur teknis JTB di atas 50 tahun.

JTB dioperasikan oleh PT Jasamarga Bali Tol, anak usaha PT Jasa Marga Tbk dengan kepemilikan saham 60 persen Jasa Marga, 20 persen Pelindo III, 10 persen PT Angkasa Pura 1, Wijaya Karya 5 persen, Adhi Karya 2 persen, Hutama Karya 1 persen, BUMN Bali 1 persen, Pemprov Bali dan Pemkab Badung 1 persen.

JTB dioperasikan oleh PT JasaMarga Bali Tol untuk masa konsesi 45 tahun.

SUMBER : ANTARA NEWS.com

JEMBATAN ANCOL

Misteri Kisah Si Manis Jembatan Ancol

Misteri Kisah Si Manis Jembatan Ancol Sebut saja Jembatan Ancol, yang dahulu merupakan jembatan goyang, yang terletak di Jakarta Utara. Jembatan ini lebih ‘populer’ dibanding dengan jembatan lain yang lebih besar dan lebih bagus di Jakarta. Bukan karena keunikan bentuk bangunan atau ukuran jembatan ini, melainkan cerita di balik jembatan ini.
Pada 1995, seorang pelukis di Ancol didatangi seorang perempuan yang meminta dilukis. 
Misteri Kisah Si Manis Jembatan Ancol
Ketika itu hari telah gelap dan gerimis mulai turun. Sesuai permintaan perempuan tersebut, sang pelukis mulai menyapukan kuasnya pada permukaan kanvas. Namun, saat sang pelukis baru menggambar setengah bagian tubuhnya, perempuan itu menghilang. Warga percaya bahwa perempuan itu adalah Si Manis Jembatan Ancol.

Mitos ini sudah dimulai puluhan tahun sebelumnya. Di tahun 60-an ketika daerah Ancol masih berupa empang-empang (tambak), seorang pendayung perahu pernah bertemu dengan Si Manis. Perempuan itu naik perahu malam-malam dan membayar pendayung tersebut dengan daun. Keterangan ini didapat dari Kostan Simatupan, seorang fotografer keliling di Ancol.

Sebenarnya siapakah Si Manis Jembatan Ancol tersebut?

Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang di masyarakat sekitar, Si Manis tersebut bernama Mariyam (ada juga yang mengatakan gadis itu bernama Siti Ariah), yaitu seorang gadis manis kembang desa yang meninggal di kawasan jembatan Ancol dan jasadnya dibuang setelah sebelumnya diperkosa.

Karena kematian yang tidak wajar, akhirnya Mariyam menjadi ‘penunggu’ jembatan Ancol yang beberapa kali menampakkan diri pada orang-orang tertentu. Seperti yang pernah dialami oleh Anshori, penjual rokok di dekat pintu keluar Ancol. Anshori mengaku pernah melihat Siti Ariah dari dekat. Ia membuka pertama kali kios rokoknya di sini pada 1990, tepatnya di samping jembatan goyang.

Saat itu malam Jumat, Anshori sedang menunggui kiosnya, agak gerimis. Sekitar pukul 1 pagi, lewat seorang perempuan. Ketika sudah agak jauh, perempuan itu berbalik arah menghampiri kios Anshori sembari tersenyum. Anshori menyapa perempuan yang dikiranya calon pembeli dagangannya itu. Jarak Anshori dengan perempuan itu kira-kira 50 cm.

Menurut Anshori, perempuan itu berwajah manis, serta memakai kemeja kuning dan rok abu-abu. Setelah ditanya hendak belanja apa, perempuan itu menghilang. Meski tidak memakai pakaian serba putih, Anshori yakin perempuan itu adalah Si Manis Jembatan Ancol.

Hotel Horison Ancol, yang juga terletak di kawasan Ancol, pun tak lepas dari cerita. Di hotel ini sering terlihat wanita cantik yang melintas di depan mata tapi saat diperjelas wanita tersebut hilang entah kemana. Konon wanita tersebut tak lain adalah sang tokoh legendaris ‘Si Manis Jembatan Ancol’. Kabarnya management hotel membuat kamar khusus untuk si hantu manis ini. Tidak percaya datang saja sendiri.

Masih dari kawasan Ancol, Jakarta Utara. Selain Hotel Horison, Putri Duyung Ancol juga memiliki cerita. Disalah satu bangunan putri duyung Ancol pernah ada suatu kejadian di mana seorang wanita simpanan terbunuh secara mengenaskan.

Selain dari putri duyung, kawasan arena balap mobil Ancol juga menyimpan sebuah cerita. Tahukah anda, bahwa tempat ini merupakan tempat pertama kali ditemukannya mayat terpotong (kasus mutilasi). Legenda mayat terpotong menjadi tiga belas (13) bagian ini adalah rekor tersendiri yang mengawali peristiwa mayat terpotong-potong lainnya di seputar Jakarta. Hingga saat ini pembunuhnya tidak pernah ditemukan.

Selain jembatan Ancol, kali sunter Ancol juga dianggap angker oleh masyarakat sekitar. Dahulu, di kali ini pernah ada kejadian yang menewaskan banyak orang, yaitu terperosoknya metro mini ke dalam kali sunter. Sehingga sebagian besar penumpangnya tenggelam.
 
SUMBER : MISTERI DUNIA(kumpulan misteri danmitos di dunia)

JEMBATAN NEOLMINA

SEJARAH JEMBATAN NOELMINA

Story Of NoelMina Bridge

Jembatan NoelMina Adalah sebuah Jembatan monumental bagi masyarakat Timor Barat yang terletak di perbatasan antara kabupaten Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Selatan atau berada di kilometer 77 dari arah Kota Kupang. Nama jembatan ini berasal dari kata “noel” yang berarti sungai dan “mina” adalah nama wilayah,sehingga dinamakan Jembatan Noelmina dari sungai yang berhulu di Gunung Mutis ini. Jembatan pertama kali di bangun tahun 1910 oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan menggunakan tenaga rodi dari penduduk Timor. Ketika itu mereka diarahkan mengumpulkan batu untuk membangun pondasi beton dan juga mengumpulkan kayu hutan untuk membuat struktur dan rangka jembatan. Diperkirakan tahun 1920 jembatan ini selesai dibangun dan dapat dipergunakan.



Sebelum jembatan ini di bangun masyarakat harus menyeberangi sungai untuk menuju ke dan dari pusat pemerintah kolonial yang berada di Kupang. Perjalanan kaki atau menaiki kuda akan terasa aman bila dilakukan padamusim kemarau, namun tidak demikian bila musim penghujan karena sangat berbahaya. Sungai Noelmina banyak memakan korban bagi masyarakat yang nekad menyeberang karena terbawa arus deras, dan tentunya menjadikan cerita pilu bagi keluarga yang pernah ditinggalkan. Tidak hanya di masa lalu,sungai ini masih tetap berbahaya hingga kini terutama bagi para penambang pasir, walau kering di musim kemarau namun dapat meluap di musim penghujan. Di saat pendudukan Jepang jembatan ini merupakan penghubungutama mobilitas antara markas Jepang di Kupang hingga barak tentara Jepangyang berada di Atambua. Oleh karena itu pada tanggal 19 Februari 1944 jembatan ini dibom putus oleh pesawat tempur sekutu (RAAF) seperti terlihat pada foto udara berikut ini.



Putusnya jembatan ini membuat pertahanan Jepang di Pulau Timor melemah dan terus mendapatkan serangan dari armada sekutu hingga berakhirnya masa pendudukan Jepang di Timor. Jembatan ini kemudian di rekonstruksi kembali pada akhir tahun 1945, untuk memperbaiki bekas pemboman tentara sekutu. Sesudah itu di awal kemerdekaan konstruksi jembatan ini diperkuat dengan manambah konstruksi lengkung untuk menahan beban jembatan, walau saat itu jembatan hanya dapat memuat lalu lintas satu kendaraan saja. 


Pada tahun 1987, tepat bersebelahan dengan Jembatan Noelmina lama di bangun Jembatan Noelmina yang baru dengan menggunakan konstruksi baja (steel truss bridge), hingga selesai di bangun pada tahun 1989 dan kemudian diresmikan pada tanggal 14 Maret 1990, oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Sudarmono, SH. Jembatan sepanjang 240 meter dengan lebar tujuh meter ini menjadi jembatan rangka baja terpanjang di Nusa tenggara Timur. Saat ini bekas-bekas keberadaan jembatan lama peninggalan kompeni masih bisa terlihat, seperti bekas pondasi yang telah dirubuhkan dan tepian jembatan lama. Kini aktivitas keramaian telah nampak di sekitar jembatan sebagai tempat persinggahan menuju arah timur Kota Soe dan arah selatan menuju lokasi wisata pantai Kolbano.












SUMBER: IKAPTK KOTA KUPANG

JEMBATAN TERPANJANG DI NTT

Posted on Jan 5, 2015 in Lingkungan, Pariwisata, Transportasi | 0 comments NTT 2 Penulis berfoto di jembatan terpanjang di NTT [Senin 4/1] (Foto: Yatna) ITA APULINA TARIGAN. KUPANG. Masyarakat Kabupaten Timor Tengah Selatan sangat bangga dengan jembatan rangka baja yang melintang di atas sungai Noelmina. Jembatan yang menghubungkan Kabupaten Timor Tengah Selatan dengan Kabupaten Kupang ini adalah jembatan terpanjang di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan panjang 240 meter dan lebar 7 meter. Kehadiran jembatan ini membuat sungai Noelmina yang berhulu dari Gunung Mutis dan tebing batunya semakin indah. Selain sebagai jembatan terpanjang dan menjadi kebanggaan masyarakat NTT, jembatan ini juga adalah salah satu situs bersejarah bagi propinsi ini. Pada tahun 1910, Pemerintah Hindia Belanda mengerahkan penduduk Timor dalam kerja rodi untuk membangun jembatan ini. Sungai Noelmina adalah sungai yang besar, bersahabat di kala kemarau tetapi berbahaya di musim hujan. Di musim kemarau, dasar sungai menjadi kering; batu-batu dan pasirnya terlihat biasa dan aman untuk dilintasi dengan berkuda ataupun berjalan kaki. Jika musim hujan tiba, air sungai meluap mengalir dengan derasnya. Konon, sebelum jembatan dibangun di atas sungai ini, banyak penduduk Timor yang nekad melintas di musim hujan tewas terbawa arus. sekutu membom jembatan ini Kisah Jembatan Noelmina terus berlanjut di jaman pendudukan Jepang. Jembatan ini sangat berguna dan merupakan jalur utama lintas bagi penduduk dan tentara Jepang dari Kupang ke Atambua dan sebaliknya, sehingga kemudian Sekutu membom jembatan ini. Setelah Indonesia merdeka, jembatan ini kemudian diperbaiki dan berfungsi seadanya. Sekedar menghubungkan daerah NTT yang terpisahkan oleh Sungai Noelmina. Di masa Orde Baru, pada tahun 1987, jembatan ini dibangun dengan konstruksi baja seperti sekarang dan diresmikan pada 14 Maret 1990, oleh Wakil Presiden RI saat itu, yaitu Sudarmono SH. Jika berdiri di sisi jembatan sebelah kiri arah menuju Kota Soe, akan kelihatan bekas jembatan dan pondasi saat pembangunan di masa pemerintahan Hindia Belanda. Lumut-lumut dan rumput yang tumbuh di beton tua itu tidak mengurangi kekokohan bangunan lama. Selain digunakan sebagai jalan penghubung, jembatan ini juga sering ramai dengan pengunjung yang sekedar melihat-lihat saja dan menatap aliran sungai Noelmina di kala hujan. sumber :sora sirulo.com
Riau Punya Jembatan Bentang Terpanjang di Tanah Air Jumat, 14 Desember 2012 | 15:10 WIB Berita Terkait Tommy Soeharto Sebut Faisal Basri Lakukan Penyesatan Publik Gaya Centil Obama Saat "Selfie" Pakai Tongsis Kapan Waktu yang Tepat bagi Anak untuk Pacaran? Bahagia Bermula dari Pikiran Pedasnya Cabai Bisa Turunkan Berat Badan 1 PEKANBARU, KOMPAS.com — Gubernur Riau Rusli Zainal, Kamis (14/12/2012), meresmikan Jembatan Teluk Masjid yang dinamakan Jembatan Sultan Abdul Djalil Rachmad Syah di kawasan Teluk Masjid, Kabupaten Siak, Riau. Bangunan jembatan ini memiliki bentangan (jarak tiang ke tiang) sepanjang 250 meter yang merupakan terpanjang di Indonesia saat ini. "Sebelumnya, jembatan yang memiliki bentang terpanjang dipegang oleh Jembatan Rumpiang, Kalimantan Selatan, selebar 200 meter," ujar Irving Kahar Arifin, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Siak, seusai peresmian jembatan. Jembatan sepanjang 1.650 meter dan lebar sembilan meter itu dibangun selama delapan tahun dengan biaya Rp 359 miliar. Dana itu merupakan patungan antara dana APBD Provinsi Riau (70 persen) dan APBD Siak (30 persen). "Sebelumnya, warga Siak atau Bengkalis menuju Dumai lebih senang bepergian melewati jalur Perawang-Minas-Duri. Waktu tempuh lewat jalur itu mencapai enam sampai tujuh jam. Dengan adanya Jembatan Teluk Masjid, jarak tempuh dipangkas menjadi dua jam setengah saja," ujar Irving. Sebelum adanya jembatan, jalan dari Bengkalis-Siak-Dumai memang sudah dibangun. Hanya saja, jalan itu terputus (Sungai Siak) di wilayah Teluk Masjid sehingga harus dilalui menggunakan kapal roro milik PT Bumi Siak Pusako (BUMD Perminyakan Riau). Penyeberangan memang berkisar 20 menit, tetapi waktu tunggu dan muat kendaraan dapat mencapai dua sampai tiga jam. Sungai Siak merupakan salah satu dari empat Sungai besar di Riau, selain Sungai Kampar, Sungai Indragiri, dan Sungai Rokan. Sungai Siak merupakan yang terlebar dan terdalam sehingga dapat dipakai transportasi sungai dari Selat Malaka menuju Kota Pekanbaru. Gubernur Riau Rusli Zainal mengungkapkan, dengan berdirinya jembatan itu, jalur pelabuhan Dumai dan Tanjung Buton yang dipersiapkan sebagai kawasan industri baru di Siak, Riau, sudah dapat dipercepat. Jalur angkutan barang dari Dumai menuju Siak dan Bengkalis semakin pendek dan murah.

Mongabay Travel : Pesona Jembatan Akar Sungai Batang Bayang Sumbar


Obyek wisata Jembatan Akar di Kenagarian Puluik-Puluik, Kecamatan Bayang,  Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.  Foto : Erik Coubout
Obyek wisata Jembatan Akar di Kenagarian Puluik-Puluik, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Foto : Riko Coubout
Tumbuh berseberangan dan membentang di atas sungai batang bayang, akar batang beringin dan batang kubang terjalin menjadi jembatan. Masyarakat setempat menyebutnya Titian Aka. Kokoh berdiri semenjak ratusan tahun yang lalu. Inilah sajian alam nan indah dan alami. Keindahan yang disajikan dari generasi ke generasi. Jembatan akar dengan panjang tigapuluh meter, lebar satu meter dan tinggi delapan meter ini menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan penikmat wisata alam.
Pesisir Selatan memang terkenal dengan keindahan tempat-tempat wisatanya. Tak hanya terkenal dengan keindahan wisata bahari seperti Pantai Carocok ataupun Kawasan Mandeh, kabupaten ini juga menyimpan pesona alam yang tak kalah indah dari tempat-tempat wisata lainnya. Salah satunya adalah keindahan dan keunikan Jembatan Akar.
Bentuk jembatannya yang unik serta terbuat dari akar kayu memang jarang untuk ditemukan ditempat lain. Tak heran jika banyak orang berkunjung dan berwisata kesini. Faktor lainnya yang mendukung adalah kemudahan akses menuju lokasi dan terjangkau.
Obyek wisata Jembatan Akar ini terletak 88 km di bagian selatan kota Padang, tepatnya di Kenagarian Puluik-Puluik, Kecamatan Bayang,  Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Untuk menuju lokasi ini dapat ditempuh dengan angkutan umum, travel, motor, mobil sewaan atau mobil  pribadi.
Jembatan Akar memang unik, sebab dirajut dari  akar pohon yang tumbuh di kedua sisi sungai Batang Bayang dan membentuk menjadi jembatan utuh. Keunikan lainnya adalah jembatan itu semakin kuat seiring pertumbuhan pohonnya. Hal ini tentu berbeda dengan jembatan biasa yang dibuat dari kayu atau campuran semen, yang akan melapuk mengikuti umur.
Walau sudah berumur ratusan tahun, akar-akar yang melilit dibadan jembatan tumbuh besar, saat ini sudah mencapai sebesar paha orang dewasa. Dengan bertambah besarnya akar-akar tersebut membuat jembatan tidak mudah goyah sekalipun dilewati oleh sepuluh orang.
Akar yang terjalin membentuk jembatan pada Jembatan Akar di Kenagarian Puluik-Puluik, Kecamatan Bayang,  Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Foto : Riko Coubout
Akar yang terjalin membentuk jembatan pada Jembatan Akar di Kenagarian Puluik-Puluik, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Foto : Riko Coubout
Jembatan akar di Pesisir Selatan ini lebih panjang dari jembatan akar yang ada di perkampungan Baduy, Banten dan jembatan akar yang  ada di Jepang.  Bahkan jembatan yang diperkirakan berumur 100 tahun ini mempunyai nilai sejarah tinggi.
Konon, jembatan ini dibuat oleh seorang ulama bernama Pakih Sokan bergelar Angku Ketek, untuk menghubungkan dua kampung yang dipisah oleh sungai batang bayang. Jembatan dibangun tahun 1890, tetapi baru dapat digunakan masyarakat setempat pada 1916. Dengan kata lain, proses merajut akar  menjadi jembatan ini membutuhkan waktu lebih kurang 26 tahun.
Khaidir (83), salah seorang tua kampung Lubuk Silau menceritakan Pakih Sokan mengajar mengaji di kampung tersebut. Melihat murid-muridnya kesulitan menyeberangi sungai saat hendak pergi mengaji saat hujan, Pakih Sokan membuat jembatan dan menanam pohon di kedua sisi sungai.
Seiring waktu, Jembatan Akar itu semakin kokoh dengan akar-akar seukuran paha orang dewasa, dan tidak goyah meski dilewati oleh sepuluh orang.
Guna menjamin keselamatan dan keamanan pengunjung, pengelola tempat wisata itu telah memasang tali penyangga terbuat dari baja guna mengurangi tekanan/beban dari setiap pengunjung yang melintas. Juga dibangun jembatan gantung yang berada tidak jauh dari jembatan akar guna mengurangi fokus perlintasan pengunjung yang datang.
Selain itu Sungai Batang Bayang juga bisa dimanfaatkan untuk olahraga arung jeram yang cukup menantang karena terdapat banyak batu batu besar sepanjang badan sungai.
Sungai Batang bayang yang terkenal dengan kejernihan dan kesejukan airnya, juga menjadi daya tarik tersendiri.
Jika pengunjung berdiri di atas jembatan dan memandang sungai, terlihat jelas ikan-ikan (pareh) berbagai ukuran berenang kian kemari. Namun tidak diperbolehkan menangkapnya dalam bentuk apapun. Sebab ikan tersebut “keramat” atau telah di sumpah (uduh) oleh masyarakat setempat dan hanya dapat diambil atau di panen pada waktu-waktu tertentu.
Walaupun begitu di jernih dan sejuknya air sungai batang bayang, pengunjung dapat mandi sepuasnya dengan dikerumuni ikan-ikan. Ada cerita bahwa muda-mudi yang berenang di sungai itu akan segera mendapatkan jodoh.
Dasar sungai juga banyak tersedia aneka batu yang bisa diolah menjadi cincin batu akik. Pengunjung yang tertarik, bisa mengambil batu dengan menyelam ke dasar sungai atau berburu batu disepanjang tepian sungai.
Obyek wisata Jembatan Akar di Kenagarian Puluik-Puluik, Kecamatan Bayang,  Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.  Foto: Riko Coubout
Obyek wisata Jembatan Akar di Kenagarian Puluik-Puluik, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Foto: Riko Coubout
Lucy (33) wisatawan asal Inggris, saat ditemui Mongabay di lokasi mengakui bahwa Jembatan Akar ini sangat unik. “It’s very beutiful dan saya puas berfoto di tempat ini,” katanya.
Dia sangat penasaran dan merencanakan liburan ke Sumbar untuk mengunjungi jembatan akar, ketika mengetahui informasi melalui internet. “Saya ingin sekali bermalam disini, menghirup sejuknya udara pagi serta mandi di sungai, namun sepertinya tidak ada tempat penginapan atau homestay dekat lokasi ini,” katanya.
Meski belum ada penginapan, pemda setempat telah membangun fasilitas parkir di tempat wisata tersebut. Warung-warung yang menjual aneka makanan dan minuman dan masyarakt sekitar lokasi juga siap melayani wisatawan.
Jembatan Akar juga bakal makin ramai, karena Pemkab Pesisir Selatan berencana membangun jalan yang menghubungkan dengan Pemkab Solok.
Biasanya Jembatan Akar ramai dikunjungi wisatawan domestik seperti dari Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Riau, ketika moment Balimau atau menjelang Bulan Ramadhan, saat liburan seperti lebaran dan hari besar. Sedangkan wisatawan manca negara datang setiap waktu di hari-hari biasa.
Makin ramainya Jembatan Akar dikunjungi wisatawan, tentu akan mengangkat perekonomian masyarakat setempat.
Kelestarian Hutan
Jembatan Akar pada Sungai Batang Bayang yang merupakan penghubung beberapa kampung, salah satunya Kampung Lubuk Silau, terletak diantara dua buah gunung yaitu Gunung Jantan dan Gunung Batino tempat dimana masyarakat Nagari Puluik-Puluik hidup.
Kampung Lubuk Silau merupakan salah satu kampung yang berada di lereng Gunung Batino, ekonomi masyarakatnya terfokus pada hasil hutan bukan kayu. Maka tidak heran jika kita akan menyaksikan rimbunnya hutan disekitar kampung ini.
Jembatan gantung melengkapi obyek wisata Jembatan Akar dengan latar hutan yang masih asri. Foto : Riko Coubout
Jembatan gantung melengkapi obyek wisata Jembatan Akar dengan latar hutan yang masih asri.
Foto : Riko Coubout
Kejernihan dan kesegaran air Sungai Batang Bayang tidak terlepas dari fungi hutan yang terjaga di nagari tersebut. Hutan masih terjaga lebat, tidak ada aktiftas pembalakan membuat kawasan ini tetap terjaga. Masyarakat setempat tetap komitmen mempertahankan hutan untuk menghindari ancaman longsor.
Meski begitu, masyarakat masih bisa memanfaatkan hutan untuk mendukung perekonomian dengan menanami kulit manis, karet, pala, damar, pinang. Di kawasan yang landai, masyarakat menanam padi dan palawija. Pengelolaan seperti ini sudah dilakukan masyarakat turun-temurun. Peladangan yang berada di daerah kelerengan ditanami tanaman berumur panjang untuk investasi jangkan panjang. Walaupun begitu masyarakat juga menanam tumbuhan yang dapat dipanen setahun sekali di ladangnya.


SUMBER : MONGBAY.CO.ID

JEMBATAN GONDOLAYU


Jembatan Gondolayu

Jalan Jenderal Sudirman Yogyakarta

Jembatan selalu memiliki cerita menarik. Bangunan yang awalnya dirancang untuk menghubungkan dua tempat, memudahkan mobilitas manusia dengan melintasi sungai, jalan atau lembah ini semakin lama memiliki fungsi tambahan, yaitu sebagai ruang publik untuk berkumpul. Salah satunya di Jembatan Gondolayu, Yogyakarta.
Sampai saat ini Jembatan Gondolayu masih berperan menghubungkan warga di sisi timur ke barat, melintasi Sungai Code yang mengalir di bagian bawah. Sebuah dokumen menceritakan mengenai Jembatan Gondolayu yang ditumbuhi banyak pohon dan rindang di tahun 1937. Sayangnya, saat ini kerindangan itu sudah tak tampak lagi. Jembatan yang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda ini menjadi gersang dan semrawut. Selain karena jumlah bangunan dan pengguna kendaraan yang terus bertambah, jembatan ini digunakan untuk berkumpul dan menghabiskan waktu di sore dan malam hari. Para pengunjung kerap memarkir kendaraan pada sisi jembatan. Lalu, mereka bercengkrama atau berfoto pada kedua sisi jembatan.
Keadaan ini semakin parah ketika terjadi banjir lahar dingin atau meletusnya Gunung Merapi. Para pengendara sepeda motor, mobil atau sepeda langsung berhenti di bahu jalan lalu melihat ke arah Sungai Code atau memotret lelehan lava pijar. Sedangkan, pada bagian yang berbeda warga di pinggiran Kali Code berjuang meninggikan talut agar rumah mereka tak terendam banjir. Tak lama kemudian, para penjual makanan ikut merapat, menawarkan dagangan, lalu, terjadilah kemacetan di kedua sisi yang membuat arus lalu lintas tersendat bahkan berhenti total.
Cerita Jembatan Gondolayu tetap saja menarik. Jembatan ini masih menunjukkan peninggalan dari pemerintah Kolonial Belanda serta memudahkan pengguna jalan. Sayangnya, beberapa orang tetap tidak tahu fungsi jembatan, bahkan tidak mau tahu dan tidak peduli.


sumber : gudeg.net



JEMBATAN MBEROK semarang

Menilik Jembatan Mberok yang Bersejarah di Semarang

Semarang, Suasana Jembatan Mberok Semarang: Menilik Jembatan Mberok yang Bersejarah di Semarang
May 6th, 2014. Semarang, Menilik Jembatan Mberok yang Bersejarah di Semarang.
Kota semarang hingga saat ini masih dinobatkan sebagai salah satu tujuan kota wisata indonesia yang banyak digemari dan dikunjungi oleh wisatawan dari dalam dan luar negeri. Tak heran jikalau perekonomian kota semarang ini tumbuh dengan secara cepat. Tak lepas dari hal itu semua pasti berasal dari sejarah lama yang tak terpisahkan di kota semarang ini. Sejarah mencatat bahwa kota semarang dulunya dijadikan pusat perdagangan oleh bangsa belanda karena mempunyai pelabuhan.
Salah satu tempat wisata yang menarik banyak perhatian dari wisatawan mancanegara yaitu kota tua, terutama wisatawan dari eropa khususnya belanda mempunyai daya tarik yang sangat besar terhadap salah satu bangunan peninggalan nenek moyang mereka ratusan tahun yang lalu. Salah satu hasil karya masa pemerintahan belanda yaitu jembatan mberok yang terletak di jalan pemuda semarang dan menurut sejarah yang ada bahwa kali mberok ini dulunya merupakan jantung kota semarang.
Lokasi jembatan mberok ini sangat strategis dan wisatawan dapat kemana saja dengan mudah dari jembatan mberok ini. Karena dulunya jembatan ini dibuat untuk memudahkan transportasi bagi para pedagang untuk mengantarkan komditas dagangan dari pesisir pantai menuju daratan semarang. Bahkan hingga Laksamana Cheng Ho sempat menggunakan kali mberok ini saat berada di semarang.
Semarang, Bangunan Jembatan Mberok Semarang: Menilik Jembatan Mberok yang Bersejarah di Semarang
Semarang, Suasana Jembatan Mberok Semarang: Menilik Jembatan Mberok yang Bersejarah di Semarang
Semarang, Nuansa Jembatan Mberok Semarang Tempo Dulu: Menilik Jembatan Mberok yang Bersejarah di Semarang
Saat selesai dibuat, pemerintah kolonial belanda memberi nama jembatan ini sebagai jembatan Mberok Gouvernementsburg. Hingga saat ini jembatan mberok ini masih berdiri kokoh dan digunakan media penyeberangan bagi masyarakat kota semarang, hingga sekarang ini jembatan mberok sudah mengalami beberapa kali renovasi karena usia bahan pembuat jembatan sudah rapuh.

Sumber : KOTA WISATA.COM

JEMBATAN SERAYU

jembatan-cindaga2.jpgjembatan-cindaga.jpgASSALAMUALAIKUM WR.WB
Sejarah Jembatan Cindaga lama sebelum runtuh DI jalur selatan antara Kecamatan Rawalo dan Kecamatan Kebasen Kabupaten Banyumas,
terdapat dua jembatan yang berjajar membentang di atas Sungai Serayu.
Kedua jembatan itu berada di Desa Cindaga Kecamatan Kebasen.
Jembatan tua yang membentang di sisi utara disebut jembatan Soekarno, sedangkan yang berada di sisi selatan disebut jembatan Soeharto.
Jembatan Soekarno atau Cindaga A dibangun pada tahun 1928, merupakan hasil karya Ir Soekarno . Jembatan ini dibangun tiga tahun setelah Soekarno lulus dari Technische Hochschule Bandung (sekarang ITB).
Karya tersebut menunjukkan bahwa Soekarno Presiden pertama RI,
bukan saja seorang poltikus,
melainkan juga seorang ahli bangunan.
Jembatan Cindaga merupakan salah satu karya monumentalnya.
Jembatan Cindaga karya Ir Soekarno itu, benar-benar teruji dan mampu bertahan hingga 65 tahun.
Pada masa Perang Dunia II, jembatan Soekarno pernah dibom oleh Jepang,
tetapi kemudian dibangun kembali.
Sisa pondasi jembatan lama masih tampak kalau air sedang surut.
Jembatan ini mampu bertahan hingga tahun 1993.
Jembatan baru pengganti jembatan Soekarno itu dibangun di sebelahnya, disebut sebagai jembatan Cindaga B.
Namun masyarakat menyebutnya sebagai jembatan Soeharto
karena dibangun pada masa kepemimpinan Soeharto tahun 1993 dan rampung tahun 1998.
Total panjang jembatan ini 214 meter.
Pada lembaran hitam sejarah nasional, jembatan Cindaga konon menjadi tempat eksekusi bagi mereka yang terlibat Peristiwa G 30 S /PKI tahun 1965.
Banyak tokoh partai yang akhirnya dilarang itu, tewas dan dihanyutkan dari atas jembatan ini.
Namun tidak pernah ada dokumen resmi yang mengungkap peristiwa jembatan Cindaga tersebut.
Tempat Wisata Seorang pensiunan karyawan Pemkab Banyumas, Bambang Purwoko BA (61),
memiliki dokumen jembatan Cindaga yang asli, ketika baru selesai dibangun. Di sisi utara jembatan itu terdapat dua jembatan besi lengkung.
Salah satunya merupakan jembatan kereta api SDS (kereta api lembah sungai Serayu).
Kereta api SDS yang lewat jembatan ini adalah jurusan Purwokerto-Maos lewat Sampang.
Jalur kereta api ini sudah ditutup sejak lama.
Dua jembatan lengkung itu juga sudah dibongkar.
Jembatan Cindaga yang asli pun hanya cukup untuk lewat dua dokar yang berpapasan.
Pemkab Banyumas pernah merencanakan jembatan ini dijadikan Cindaga Rest Area,
untuk beristirahat para pengguna jalan antara Bandung-Yogyakarta.
Di atas jembatan kuno ini dibangun restoran, café dan tempat penjualan cendera mata.
Selain itu juga dijadikan tempat kunjungan wisata,
dikaitkan dengan program Serayu River Voyage.
Namun sampai saat ini belum ada investor yang tertarik untuk mengembangkannya.
Jembatan yang sudah berusia 82 tahun ini,
sekarang dimanfaatkan oleh para pehobi mancing.
Tiap hari puluhan orang memancing dari atas jembatan, untuk mendapatkan ikan kali yang terkenal gurih rasanya.
Tak jauh dari pondasi jembatan para penambang pasir mengadu nasib
dengan menggantungkan hidupnya dari Sungai Serayu.
Mereka tidak menghiraukan bahwa penambangan itu bisa merusak jembatan yang memiliki nilai sejarah tersebut.
Tulisan ini dimuat di Suara Merdeka/Suara Banyumas edisi 28 Mei 2011
Catatan penulis: Sebulan setelah tulisan ini dimuat, jembatan bersejarah itu ambruk.

Sumber: Didi Wahyu http:// didiweha.blog.com/2011/12/10/ jembatan-serayu- cindaga-karya-ir- soekarno/