Minggu, 14 Desember 2014

JEMBATAN CINTA DI KEBUN RAYA BOGOR

Mitos Pohon Jodoh dan Jembatan Cinta

|
Mitos Pohon Jodoh dan Jembatan Cinta
BOGOR - Di setiap tempat atau daerah pasti mempunyai kepercayaan atau mitos–mitos yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat. Mitos ini biasanya dikait–kaitkan dengan kejadian masa lampau.
Padahal, tidak ada yang bisa memastikan kebenaran dari mitos yang berkembang dan dipercaya secara turun-menurun itu. Di era yang sudah modern ini, ternyata masih ada sekelompok masyarakat khususnya di Kota Bogor yang masih mempercayai mitos–mitos tersebut. Ada beberapa mitos atau kepercayaan yang berhubungan dengan ikon Kota Bogor ini, tak lain Kebun Raya Bogor.
Di kebun ini, tak hanya menyimpang aneka ragam botani, namun memendam cerita
bernuansa magis.  Mitos yang berkembang di sini berhubungan dengan urusan percintaan. Menarik memang, mungkin karena banyak dari pengunjung Kebun Raya Bogor ini adalah pasangan muda– mudi. Oleh karena itu, masyarakat juga sering menyebut Kebun Raya Bogor ini dengan Kebun Jodoh.
Ada beberapa tempat di Kebun Raya Bogor yang menurut warga Bogor terkait erat dengan satu mitos. Boleh percaya atau tidak. Apakah benar atau kebetulan saja, sulit untuk memastikan mana yang benar. Namanya juga mitos. Adalah Jembatan Cinta, sebuah jembatan gantung berwarna merah. Karena warnanya itu, sebagian orang menyebutnya Jembatan Merah. Di jembatan ini juga sering dipakai untuk shooting acara televisi.
Mitos yang berkembang di situ adalah bila sepasang kekasih berjalan menyeberangi Jembatan Merah, maka dipercaya tidak lama kemudian hubungan percintaannya berakhir. Namun sebaliknya, bila berjalan di Jembatan Cinta bukan bersama kekasih melainkan hanya teman, jika berpacaran dipercaya akan langgeng dan bahkan bisa sampai ke jenjang pernikahan.
Tempat kedua yang masih berhubungan dengan mitos percintaan ialah Pohon Jodoh. Tempatnya pun tidak jauh dari Jembatan Merah. Pohon Jodoh sebenarnya hanya dua pohon besar yang kebetulan berdampingan. Di bawah kedua pohon tersebut terdapat bangku taman. Pohon yang berada di sebelah kiri adalah Meranti yang mempunyai kulit kasar dan berwarna gelap. Sedangkan pohon yang satu lagi adalah beringin dengan kulit licin berwarna coklat.
Melihat perbedaan warna kulit ini katanya menggambarkan sepasang pengantin, sehingga banyak orang yang menyebutnya sebagai Pohon Jodoh. Konon, bila kita duduk di bawah Pohon Jodoh itu bersama pasangan, maka hubungan kasih akan langgeng.
Menurut beberapa orang, mitos tersebut berasal dari pengunjung itu sendiri yang sengaja membuat cerita seperti sedemikian rupa. Memang ada beberapa orang yang memercayai mitos tersebut. Misalnya, dari pengalamannya saat berjalan–jalan dengan kekasihnya dan tidak berapa lama kemudian mereka putus pacaran.
Ada juga yang mendapatkan jodoh di Kebun Raya dan terus berlanjut hingga ke jenjang pernikahan. Itu semua kembali kepada pribadi masing–masing. Mitos percintaan di Kebun
Raya Bogor ini sudah tersebar di wilayah Kota Bogor, bahkan hingga keluar kota.
"Mitos di Kebun Raya Bogor ini tidak diketahui pasti kapan adanya. Kemungkinan dari omongan pengunjung itu sendiri yang cerita dari mulut ke mulut sehingga nyebar," jelas
staf pemandu Kebun Raya Bogor, Iteng Gayana.
Menurut dia, pengunjung secara tidak langsung membuat mitos tersebut dari engalamannya, ketika berada di Kebun Raya Bogor. "Ya, awalnya mungkin semacam cerita untuk sekadar kenang-kenangan. Tapi lama-lama banyak orang percaya atau setengah percaya, karena kebetulan mengalami hal yang sama," beber Iteng.
Di Bogor juga ada satu jembatan yang memiliki nilai historis dan menjadi saksi pejuangan bangsa Indonesia massa lalu. Jembatan ini berada di pertigaan Jalan Kapten Muslihat, Jalan Veteran, dan Jalan Merdeka. Namanya Jembatan Merah, sama dengan nama jembatan bersejarah lainnya yang membentang di Kota Surabaya.
Sejarah Jembatan Merah diawali tahun 1881, ketika seorang arsitek Belanda, Mr Motmann, bersama amtenar pribumi bernama Saripin membangun jembatan yang melintasi Sungai Cipakancilan. Setelah rampung, jembatan lengkap dengan lampu-lampu gas tersebut dilumuri cat warna merah bata, dari sinilah sebutan Jembatan Merah diambil. Kemudian, pada 1945 saat perjuangan kemerdekaan bergolak, jembatan ini dipenuhi dengan mayat-mayat pejuang.
Selanjutnya, pada 1966 pahlawan asal Surabaya, Bung Tomo, melintasi Jembatan Merah dan melambaikan tangan ke penduduk setempat. Saat ini, kawasan jembatan bersejarah ini menjadi perlintasan padat setelah dibangun Plaza Jembatan Merah di sisi Jalan Veteran.

JEMBATAN KA SUNGAI PROGO

Jembatan KA Sungai Progo Ternyata Hanya 2 Di Dunia


Jembatan KA yang melintasi sungai Progo di lintas Kutoarjo - Yogyakarta ini memang unik. Desainnya yang tidak memiliki pilar di tengahnya, hanya terdapat 2 jembatan saja di seluruh dunia. Yang satu di Belanda dan yang satu lagi di Kulonprogo ini. Itupun yang di Belanda sudah tidak difungsikan. Jembatan sepanjang 96 m yang sudah dioperasikan sejak 1957 ini sampai sekarang masih kokoh, dan masih dapat menahan tekanan kereta api yang melintasinya dengan bobot 20 ton dan dengan kecepatan 100 km/jam. Berdasarkan gambar salinan yang dibuat tahun 1989, perencanaan pembangunan jembatan ini sudah dimulai tahun 1930 oleh CD Maussart dan langsung dikerjakan pada hari yang sama oleh CHJ Deighton dan disetujui oleh Ir Jansen. 

 

Konstruksi jembatan seperti ini sebenarnya lebih aman. Jembatan ini tahan gempa karena titik tumpuan tidak mati dan bisa bergeser sesuai dengan pergerakan tanah pada kedua ujungnya jika terjadi gempa. Titik tumpu jembatan ini menggunakan rol yang terletak di bawah jembatan. Konstruksi yang disebut Bijlaard Bent ini dipilih oleh Belanda karena arus sungai Progo yang deras. Lebih aman karena tiang tidak diletakkan di tengah sungai. Hebatnya lagi, jembatan ini dibuat menggunakan rangka baja kelas tinggi (fero). Saat ini banyak warga Belanda yang pergi ke jembatan ini untuk mempelajari konstruksi jembatan karya nenek moyang mereka yang sekarang sudah tidak difungsikan lagi di negerinya. Sayangnya, warga setempat sendiri tidak mengetahui keunikan jembatan tersebut.


SUMBER; ANEH DUNIA.com

JEMBATAN JIRAK

Jembatan Jirak Angker Bagi PEngantin Baru



Jembatan Jirak berada di Desa Semanu, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Jembatan Jirak membentang di atas sungai Jirak yang konon menurut cerita jembatan ini angker, sebagai tempat bermukimnya jin dan setan. Masyarakat disekitar jembatan Jirak sering menghubung-hubungkan kejadian kecelakaan di Jembatan Jirak ini merupakan ulah dari jin dan setan yang tinggal di jembatan ini.
Menurut Pak Tugiman Jembatan Kali Jirak berasal dari cerita nenek moyang dahulu kala rombongan Wali yang tengah melakukan perjalanan syiar agama Islam singgah ditepi sungai ini dan untuk melepas lelah mereka bermain Jirak (Permainan tradisional) “Jirakan” (namun seperti apa permainan “jirakan” sampai saat ini belum ada yang tau).  Sehingga sungai tersebut dinamakan Sungai Jirak. Sungai Jirak membelah jalan besar yang ada pada saat itu sehingga di atasnya dibangunlah sebuah jembatan, jembatan tersebut bernama Jembatan Jirak. Jembatan Jirak pada awalnya dibangun sejak jaman Belanda menjajah 2 sekitar 350 tahun yang lalu. Jembatan Jirak pada awalnya dibangun dengan menggunakan kayu, tetapi setiap musim penghujan jembatan itu sering hayut terbawa oleh banjir, karena semakin bertambah pentingnya fungsi jembatan bagi masyarakat, jembatan tersebut akhirnya dibangun dengan bahan yang lebih kokoh, sampai saat ini sudah menjadi jembatan yang cukup besar.
Cerita rakyat yang paling menarik dari Jembatan Jirak ini adalah larangan pengantin baru yang belum genap 40 hari melewati jembatan ini. Sekitar tahun 1929 sepasang pengantin baru hilang di Jembatan Jirak konon berubah menjadi batu. Batu tersebut bernama “watu manten” sekarang batu tersebut sudah hilang ada beberapa cerita yang berkembang atas hilangnya “watu manten” diantaranya ; batu tersebut telah dihancurkan oleh penambang batu yang hendak membangun tanggul sebelah selatan, ada juga yang menyakini pindah tempat dan ada juga yang menyakini “watu manten” telah hilang terbawa banjir.

Salah satu tiang Jembatan Jirak konon digunakan tempat tinggal setan, sehingga jika ada pengantin baru yang masih “mambu kembang, bedak dan atal” lewat jembatan ini maka setan dan jin penunggu tiang jembatan tersebut akan mengganggu bahkan sampai menyelakainya. Menurut cerita Mbah Ngatemorejo Sagiyo pria berusia 83 tahun ini “Jare simbah biyen nek ono manten anyar wani lewat kene mesti keno alangan, malah ono sing nganti edan” (Katanya simbah dahulu kalau ada pengantin baru berani lewat disini (Jembatan Jirak) pasti dapat musibah, bahkan ada yang sampai gila).  Mbah Ngatemorejo Sagiyo menambahkan sebenarnya setiap tempat yang angker seperti kuburan, pohon besar, jembatan, batu besar banyak dihuni oleh setan ataupun jin, sehingga sebaiknya kita jika melewatinya membunyikan klakson sebagai bentuk ucapan permisi.
Saat ini ada masyarakat yang bukan warga Semanu masih ada yang meyakini lewat Jembatan Jirak bagi pengantin mereka memberikan sesaji berupa ; ayam jantan, kembang setaman, nasi putih, uang receh dan perlengkapan “nginang”.  Masyarakat di Semanu sendiri sudah banyak yang menganggap cerita itu sebagai mitos belaka.   (Ini hanya sebuah cerita rakyat bagi anda yang tidak percaya, anggap saja sebagai sebuah cerita mitos. Kepercayaan hanya pada Tuhan (Allah) yang memiliki segalannya). (Red_hnd-hr-rnt)
(Sumber : KORAN IBU Srikandi)

JEMBATAN BENGAWAN SOLO

Jembatan Bengawan Solo Cepu

Written By infoblora.com on Feb 13, 2013 | 1:51 AM

Jembatan Bengawan Solo Cepu

Jembatan Bengawan Solo Cepu

Bengawan Solo adalah sungai terpanjang di Pulau Jawa, dengan dua hulu sungai yaitu dari daerah Pegunungan Kidul, Wonogiri dan Ponorogo, selanjutnya bermuara di daerah Gresik. Salah satu wilayah yang dilewatinya adalah Kecamatan Cepu Blora. Diatas Sungai Bengawan Solo wilayah Cepu ada sebuah jembatan yang bersejarah di Cepu. Yaitu jembatan yang berada di perbatasan Kota Cepu dan Pandangan Bojonegoro. Jembatan juga menghubungkan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jembatan ini dibangaun pada tahun 1992 dan diresmikan oleh gubernur Jawa Tengah Soewardi pada tahun 1994 dengan menelan biaya Rp. 2,895,293,500,-. Jembatan dengan panjang 220 meter dengan rentang 90 meter dan lebar 9 meter ini dibangun oleh Pemerintah dengan Konsultan Direktorat Jenderal Bina Marga dan Kontraktor PT. Nindya Karya (Persero) dengan konstruksi bangunan rangka baja atas Kelas Tipe A.


Peran jembatan yang menjadi simbol Kota Cepu ini sangat penting karena kehadirannya akan merangsang kegiatan peningkatan ekonomi, pengembangan usaha di bidang pertanian, industri, perdagangan, jasa dan meningkatnya arus barang masuk dari kedua provinsi.


Jembatan Bengawan Solo Cepu

Jembatan Bengawan Solo Cepu

Jembatan Bengawan Solo Cepu

Jembatan Bengawan Solo Cepu
Simbol Peresmian Jembatan

JEMBATAN GELADAK PERAK

  Jembatan Gladak Perak, Lumajang



Jembatan Gladak Perak merupakan jembatan bersejarah yang dibangun sejak jaman Belanda. Letak Jembatan Gladak Perak berada di Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Melintang diatas Sungai Besuk Sat, menghubungkan jalur lintas selatan antara Malang dan Lumajang. Sungai Besuk Sat sendiri merupakan sungai yang mengalirkan muntahan lahar Gunung Semeru di sisi selatan. Jika ditempuh dari Kota Malang sekitar 94 km, atau 4 km setelah kawasan Piket Nol, sedang dari Kota Lumajang sekitar 30 km.
Jembatan Gladak Perak yang saat ini digunakan adalah jembatan baru yang dibangun sekitar tahun 2001. Sedangkan jembatan lama yang ada disebelahnya sudah tidak dipergunakan lagi, karena sudah tidak layak untuk dilintasi kendaraan. Bahkan jembatan awal yang masih berupa jembatan gantung sudah tidak ada lagi. Seperti gambar dibawah, berurut perubahan jembatan Gladak Perak dari pertama kali dibangun hingga kondisi saat ini.
Jembatan sepanjang 130 meter ini juga cukup fenomenal, dengan berbagai kisahnya yang menyertainya.
-Dimulai dari keberadaannya yang sudah dibangun sejak jaman penjajahan Belanda.
-Penamaan Gladak Perak yang menurut cerita, salah satu versinya karena pondasi jembatan diberi tumbal gelang perak milik seorang penari ledek cantik. Sedang versi lainnya, disebut Gladak Perak karena jembatan ini dicat dengan warna perak.
-Tempat pembuangan mayat, ini terjadi sekitar tahun 80 an, saat petrus (penembak misterius) merajalela. Bahkan beberapa bulan lalu ada seorang pemuda warga malang, yang menjadi korban kriminal  tewas dibuang hidup-hidup di lokasi ini.
-Penampakan orang melintas di jembatan, hal ini menurut cerita pernah dialami beberapa pengendara yang melewati jembatan ini. Kejadian ini mitosnya menjadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan.



Atas: Sungai Besuk Sat, 
Bawah: Jembatan Gladak Perak Lama dan Baru

JEMBATAN KEDIRI

Kisah Jembatan Kediri, 144 tahun kokoh membelah Sungai Brantas

Reporter : Imam Mubarok | Minggu, 3 Maret 2013 05:09




Kisah Jembatan Kediri, 144 tahun kokoh membelah Sungai Brantas
Jembatan lama Kediri. ©2013 Merdeka.com
Berita Terkait
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Merdeka.com - Siapa sangka pada 18 Maret 2013 nanti jembatan lama Kota Kediri berulang tahun ke-144 tahun sejak dioperasikan dan digunakan sebagai jembatan "Groote Postweg" (jalan raya) oleh Kolonial Belanda pada 18 Maret 1869.

Jembatan ini menggunakan konstruksi besi yang dibangun di atas tiang sekrup yang dipasang di dalam sungai. Jembatan di atas Kali Brantas di Kediri adalah jembatan besi yang pertama di Jawa dan dianggap sebagai adikarya zamannya oleh seorang insinyur bernama Sytze Westerbaan Muurling

Data tentang pembangunan jembatan tersebut diperoleh www.merdeka.com dari buku yang sengaja didapatkan dari Belanda dengan judul "Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek" penelusuran yang cukup lama untuk mengungkap misteri jembatan yang konon di bawahnya ada buaya putihnya tersebut.

Olivier Johanes, salah satu sumber www.merdeka.com yang ada di Belanda yang juga seorang pengamat budaya Indonesia, adalah orang yang kali pertama menyebutkan tentang sejarah panjang jembatan yang hingga kini masih berfungsi dengan baik untuk sekedar memberikan informasi bahwa jembatan tersebut dibangun di sekitar abad ke 18.

Sangat dimaklumi sebagai penghubung wilayah barat dan timur Kota Kediri jembatan ini sangat diperlukan. Sebab hanya jembatan ini lah yang sebagai penghubung wilayah Madiun dan Surabaya di kala itu.

Lalu siapa sebenarnya Sytze Westerbaan Muurling ini yang juga mendapat julukan sebagai chief engineer di massanya?

Sytze Westerban lahir di Belanda pada 29 November 1836, meninggal dunia. 17 Oktober 1876 di Batavia. Dia adalah anak dari Dr W. Muurling seorang pendeta dan juga seorang profesor teologi.

Westerbaan menerima pendidikan dasar di sekolah Austria, dan juga pendidikan menengah pertama. Tamat SMA, selanjutnya meneruskan kuliah di Huther,Groningen mengambil jurusan hukum, Namun tiga tahun dia berhenti akibat penyakit yang ia derita.

Setelah istirahat beberapa lama dan meninggalkan bangku kuliahnya, pada tahun 1854 ia berhasil ujian masuk untuk Royal Academy di Delft, dan pada tahun 1859 dia memperoleh ijazah insinyur sipil. Atas perintah Menteri koloni 4 Februari 1860 ia diangkat ke direktur pekerjaan umum di Hindia Belanda.

"Ini penemuan menarik yang harus kita informasikan kepada masyarakat, dan karena ini baru Insya Allah dalam 18 Maret nanti kita akan adakan ulang tahun ke-144 jembatan ini," kata Kepala Disbudparpora Kota Kediri Nur Muhyar pada www.merdeka.com, Sabtu (2/3)

Dalam berbagai koleksi foto "Kediri's Photograph Museum" di Ngronggo Kota Kediri, digambarkan beberapa kali jembatan ini diterjang derasnya aliran Sungai Brantas dan yang paling parah adalah pada tahun 1954, pagar-pagarnya robon, namun karena konstruksinya yang luar biasa menjadikan jembatan ini tak bergeser sedikitpun.

Sungai Brantas sendiri adalah sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo. Panjang Sungai Brantas sendiri kurang lebih 320 km.

Sungai Brantas bermata air di Desa Sumber Brantas (Kota Batu) yang berasal dari simpanan air Gunung Arjuno, lalu mengalir ke Malang, Blitar, Tulungagung , Kediri, Jombang dan Mojokerto.

Di Kabupaten Mojokerto sungai ini bercabang dua menjadi Kali Mas (ke arah Surabaya) dan Kali Porong (ke arah Porong, Kabupaten Sidoarjo). Kali Brantas mempunyai DAS seluas 11.800 dari luas Provinsi Jatim. Panjang sungai utama 320 km mengalir melingkari sebuah gunung berapi yang masih aktif yaitu Gunung Kelud Kediri.

JEMBATAN PENELEH


“Jembatan Peneleh”, Bersejarah tapi Terlupakan!

14111002991494255372
Inilah Jembatan Peneleh di Kawasan Peneleh Surabaya itu
Kawasan Peneleh di Surabaya Jawa Timur merupakan salah satu tempat bersejarah. Di kawasan ini Anda akan menemukan kompleks pekuburan milik orang-orang Belanda jaman dulu.
Tak tanggung-tanggung usia makam ini sudah mencapai ratusan tahun. Itu bisa kita lihat dari angka yang terukir pada batu nisan makam. Salah satu makam bahkan ada yang berangka tahun 1800-an.
Di kawasan Peneleh gang VI bisa Anda lihat sebuah masjid kuno yang khabarnya merupakan warisan Sunan Ampel. Masjid yang bernama “Masjid Jamik Peneleh” ini dibangun pada tahun 1400-an beberapa bulan sebelum Sunan Ampel mendirikan masjid di kawasan Ampel Denta Surabaya.
1411100554648598423
Trotoar kayu di pinggir Jembatan Peneleh Surabaya
Masjid Jamik Peneleh berarsitektur unik. Bagian mihrab (tempat imam) menyerupai bentuk silinder. Rancang bangunnya dikerjakan oleh arsitek Belanda yang juga menangani pembangunan gedung negara Grahadi di Jalan Gubernur Suryo Surabaya.
Lanjutkan perjalanan Anda menuju Peneleh gang VII. Di gang ini Anda akan menemukan bangunan cagar budaya yang dulu pernah digunakan Bung Karno untuk rumah kost beliau. Rumah tempat indekost Bung Karno ini sebenarnya milik Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto.
Beberapa bangunan lama di kampung Peneleh gang VII ini tetap terpelihara hingga sekarang. Anda bisa melihat langsung Toko Buku Peneleh dengan gaya bangunan lama yang koleksi bukunya lengkap.
14111008301553736443
Semangat untuk selalu memelihara kebersihan yang dikobarkan
Di tengah-tengah gang VII itu terdapat makam tua milik Mbak Singo, seorang pendiri desa yang semasa hidupnya sangat dihormati dan disegani. Kini makam beliau banyak diziarahi orang dan dianggap keramat oleh warga sekitar.
Bila Anda berjalan keluar kampung Peneleh gang VII Surabaya, Anda akan menemukan sebuah jembatan di atas sungai. Jembatan Peneleh namanya.
Jembatan berpagar besi dan dicat dengan warna merah ini ukurannya memang tak terlalu besar namun sangat bersejarah.
14111012071083991182
Jembatan Peneleh konon lebih tua dari Jembatan Merah surabaya
Jembatan Peneleh khabarnya sudah ada sejak tahun 1900-an. Nama peneleh konon berasal dari kata Pinilih, yakni nama seorang pangeran (Pangeran Pinilih) penguasa kawasan ini di era Kerajaan Singosari.
Di masa pendudukan Belanda di Surabaya, di bawah Jembatan Peneleh mengalir Sungai Peneleh yang kala itu menjadi lalu lintas perniagaan. Banyak perahu-perahu lalu-lalang melewati sungai ini.
Tak banyak warga Kota Surabaya yang tahu bahwa jembatan yang menghubungkan kawasan Jalan Gemblongan-Kramat Gantung dengan kawasan Jalan Ahmad Jaiz (Peneleh-Plampitan) ini termasuk jembatan bernilai sejarah selain Jembatan Merah yang terkenal itu.
1411101440792936107
Wajah Sungai Peneleh yang dulu jadi lalu lintas perdagangan
Meski telah mengalami renovasi berulang kali sejak jaman Belanda dulu namun pamor Jembatan Peneleh hingga kini masih terlihat.
Nah, bila Anda ingin melihat langsung jejak sejarah di kawasan Peneleh Surabaya ini maka jangan lupa mampir sejenak untuk menikmati pesona Jembatan Peneleh yang bersejarah itu.

SUMBER ; KOMPASIANA 14 september 2014

JEMBATAN RENVILLE

Jembatan Renville Panjer – Kebumen dan Pelurusan Prasastinya

May 26th, 2013 | By | Category: Sejarah
Tank Belanda sedang melewati jembatan Renville menuju kota Kebumen yang telah kosong pada 19 Desember 1948
Tank Belanda sedang melewati jembatan Renville menuju kota Kebumen yang telah kosong pada 19 Desember 1948
Jembatan Renville adalah jembatan kereta api yang terletak di daerah Panjer – Kebumen yang melintas di atas sungai Luk Ula. Jembatan ini disebut jembatan Renville oleh para pejuang kemerdekaan untuk mengabadikan peristiwa perundingan Renville.
Peristiwa pelanggaran Belanda pada tanggal 21 Juli 1947 yang secara terang – terangan terhadap persetujuan Linggarjati dengan melancarkan ekspansinya hingga ke Gombong mengakibatkan TNI mengadakan perlawanan dengan tetap mematuhi perintah Gencatan Senjata. Pihak Belanda yang pada awalnya mengambil batas wilayah di timur Kali Kemit (tepatnya di lokasi yang kini menjadi Monumen Kemit) akhirnya bersedia memundurkan garis setelah diadakannya perundingan dengan Pihak RI yang di tengahi oleh KTN dan diambillah kesepakatan bahwa Kali Kemit sebagai garis demarkasi/status Quo.
Pada tanggal 27 Agustus 1947, Komisi Tiga Negara (KTN) dibentuk oleh PBB. Kemudian diadakan perundingan antara RI dengan Belanda di atas Kapal Renville yang menghasilkan Persetujuan Renville pada 17 Januari 1948. Sebagai tindak lanjut dari perjanjian tersebut maka oleh KTN (Komisi Tiga Negara) setelah melakukan perundingan yang dipimpin Panglima Divisi III Kolonel Bambang Soegeng dengan dihadiri antara lain: Letkol Koen Kamdani Komandan Resimen XX selaku Komandan COP PDKS Kebumen, Mayor Rahmat, Mayor Panoedjoe, Kapten Soebiyandono, Kapten H. Soegondo, Letnan Soeyono, Residen Banyumas, Bupati Banjarnegara, Bupati Kebumen, Kepala Polisi Gombong, dan Kepala Polisi Kebumen, Kali Kemit ditetapkan sebagai Garis Demarkasi/Status Quo. Artinya, aliran Kali Kemit baik ke utara maupun selatan dijadikan batas terluar bagian barat dari Negara Indonesia. Pasukan-Pasukan TNI dan seluruh Pejabat Pemerintahan RI yang berada di kantong-kantong (dimaksud daerah yang diduduki Belanda) harus ditarik keluar. Dengan demikian Kemit merupakan pintu keluar bagi para pejabat dan pasukan TNI Siliwangi dari Jawa Barat yang akan hijrah ke Jawa Tengah. Pasukan Siliwangi dan para pejabat tersebut diangkut menggunakan kereta api oleh Belanda, lalu diturunkan di stasiun Gombong. Selanjutnya mereka berjalan kaki ke Karanganyar dan diangkut menggunakan kereta api RI menuju Yogyakarta. Untuk memperlancar pelaksanan hijrah, Local Joint Commite (LJC) dibentuk dengan mendirikan pos di Panjatan (Karanganyar), dijabat oleh Kapten Musa yang ditugaskan MBT. Selain itu, dibukalah Jembatan Renville di desa Panjer – Kebumen oleh Zeni atas order COP Kebumen dan komunikasi telepon oleh satuan PHB pimpinan Kopral R. Soehadi. Di Pihak RI, Garis Demarkasi dijaga oleh tujuh anggota PK (Polisi Keamanan) yang berasal dari CPM yang menggunakan rumah Bapak Prawiro Soemarto sebagai Pos PK RI.

Situasi Dalam Negeri
Persetujuan Renville yang telah ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948 ternyata masih belum dapat menyelesaikan persengketaan antara pihak RI dengan Kerajaan Belanda.

Situasi Umum di Kebumen
Menjelang Pemberontakan PKI, situasi politik memprihatinkan. Di Kabupaten Kebumen tersebar berita bahwa di alun – alun Kebumen akan diadakan rapat akbar golongan kiri dengan pembicara Muso PKI. Saat itu, Kompi III Bimo Batalyon Mobil Sroehardoyo mengadakan pertahanan di desa Plarangan Karanganyar untuk menghadapi Belanda yang bermarkas di benteng Gombong. Pagi hari menjelang pelaksanaan rapat, rakyat berbondong-bondong menghadiri rapat tersebut. Mereka membawa senjata tajam seperti: arit, bendo, alu tumbuk padi, tombak, dan kudi dalam kora-kora yang disandang melingkari perutnya. Untunglah ada berita bahwa rapat akbar batal, sehingga keadaan aman dan tidak ada bentrok apapun, mengingat keadaan sedang gawat-gawatnya menghadapi Belanda.

Pengamanan Tokoh – tokoh PKI di Kebumen
Ketika terjadi peristiwa Madiun, Batalyon Teritorial Kedu IV Purworejo segera mengadakan rapat Tritunggal merumuskan langkah yang perlu diambil dalam mengamankan wilayahnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Tritunggal di Kabupaten Kebumen. Langkah – langkah yang segera diambil adalah:
  • Menangkap dan mengamankan tokoh – tokoh PKI serta simpatisannya yang tinggal di desa – desa.
  • Mengadakan pemisahan, yang berkaliber berat dikirim ke Yogyakarta/Magelang, yang sedang diamankan di kabupaten (Batalyon Teritorial Kedu IV untuk Purworejo, dan Batalyon Teritorial Kedu V untuk Kebumen).
  • Dalam rangka pengamanan dilakukan pembinaan yang dipertanggungjawabkan pada kedua Batalyon Teritorial. Di Kebumen bertempat di bekas asrama TNI Batalyon 64 (Sarinabati), selatan jalan kereta (Kompleks Kepatihan/MAN II Kebumen dan Pabrik Gula/Gedung Gembira), dan di LP Kebumen.

Agresi Militer Belanda II
Persetujuan Renville yang telah disepakati ternyata dilanggar pula oleh Belanda. Pada tanggal 19 Desember 1948 pukul 06.00 Wib Belanda telah memulai serangannya di atas ibukota Yogyakarta sembari menunggu bala tentara Belanda dan angkatan perangnya yang sedang dalam perjalanan dari Gombong menuju Yogyakarta. Pada hari Minggu pagi – pagi benar pukul 05.30 Wib tanggal 19 Desember 1948 Komandan Kompi III Batalyon III Brigade X (Batalyon Sroehardoyo) yang berkedudukan di Nampudadi dan Kepala Staf Kompi III Serma Koedoes mendengar ledakan Granat dari arah Kemit. Suara yang sama terdengar pula oleh Kapten Soemrahadi pimpinan sementara Kompi III karena Komandan Kompi III Kapten Radjiman sedang ke Purworejo untuk menengok keluarganya yang sakit. Ledakan granat itu tidak diragukan lagi setelah adanya laporan dari Kopral Soeroyo anggota regu Combat pimpinan Serma Soekidi yang bertugas di dalam kota Gombong bahwa ledakan tersebut merupakan isyarat bahwa Belanda melaksanakan rencananya “door stoot naar Jogja“. Hal itu menjadi lebih meyakinkan dengan adanya siaran RRI Yogyakarta secara berulang – ulang. Batalyon Sroehardoyo dan pasukan – pasukan lain yang bertugas di pos – pos pertahanan garis demarkasi Kemit segera melakukan pergeseran pasukan untuk menempati posnya yang baru yang telah ditentukan sebelumnya. Batalyon Mobil Soehardoyo mendapat tugas dan tanggung jawab pertahanan wilayah kabupaten Purworejo dan Batalyon Mobil Soedarmo di wilayah Kabupaten Kebumen.
Batalyon Mobil II Mayor Soedarmo menempatkan Markas batalyon Kompi Markasnya (Rahwana) di Wadas Malang kecamatan Krakal, berikut dengan Kepala Staf Kapten Iskandar, Kompi I Werkudoro Kapten Soemantoro, Kompi I Gatotkoco Kapten Soegiono, Kompi III Antasena Letnan I Moeklis dan Kompi Bantuan Anoman Letnan I Tjiptono, pada dasarnya selalu berpindah – pindah. Namun sesekali secara bergantian pasukan beristirahat di rumah Glondong Rustam desa Karang Jambu, berdekatan dengan Komando Batalyon.
Batalyon Teritorial Kedu IV Purworejo dan Batalyon Teritorial Kedu V Kebumen telah menyusun dan menempatkan kompinya, hingga dengan cepat sambil berjalan KODM – KODM dapat dibentuk di tiap kecamatan dengan personil yang ada pada kecamatan tersebut.
Instansi pemerintahan sipil, dinas dan jawatan serta sekolah – sekolah, jauh sebelumnya telah mempersiapkan diri kemungkinan terjadinya Agresi II.

Gugurnya Tujuh Orang Polisi Keamanan (PK) RI
Tujuh orang anggota Polisi keamanan (PK) yang terdiri dari CPM penjaga garis demarkasi Kemit gugur pada tanggal 19 Desember 1948 pada pukul 05.00 saat Belanda memulai aksi militernya (Agresi Militer II) dengan terlebih dahulu menghabisi mereka yang menghuni rumah Bapak Prawiro Sumarto, timur pasar Kemit sebagai Pos PK pihak RI.

Gagalnya Trekbom Jembatan Renville Panjer
Satu – satunya akses jalan yang bisa dilalui angkatan perang Belanda menuju ke Yogyakarta adalah melalui Jembatan Renville Panjer sebab jembatan resmi Tembana berhasil dihancurkan oleh pejuang RI. Jembatan Renville sendiri adalah jembatan kereta api di sungai Luk Ula Kebumen yang secara darurat digunakan sebagai akses penghubung dengan cara menumpuk balok – balok kayu di atas rel agar bisa dilalui kendaraan.
Pada pukul 06.00 Wib Belanda masuk dari arah barat ke kota Kebumen bagian selatan dengan kereta api berbendera Merah Putih sehingga tidak disangka bahwa didalamnya adalah pasukan Belanda. Selanjutnya melalui jalan yang sama (Jembatan Kereta Api Renville) di belakang kereta api berbendera Merah Putih tersebut adalah konvoi Tank – tank Belanda. Kapten Gunung yang telah siaga menggunakan Panser Wagen segera menginstruksikan semua warga untuk mengungsi. Warga segera mencari selamat ke arah selatan, timur, dan utara kota Kebumen. Di bagian utara melalui jembatan Tembana konvoi jeep, panser wagen, dan tank sebanyak kurang lebih 50 buah menggunakan lambang – lambang KTN, yang merupakan Stoot Troop terjebak karena jembatan tersebut telah berhasil di trekbom. Banyak tank dan kendaraan lainnya berbalik dan mengambil akses jalan melalui jembatan Renville. Meski demikian, selanjutnya Belanda tetap memanfaatkan jembatan Tembana untuk akses menuju Yogyakarta dengan membangun jembatan darurat di atasnya.
Pada saat Belanda masuk kota, di dalam kota telah kosong. TNI dibagi dua yakni sektor Utara dan Sektor Selatan. Di selatan kota terdapat Mayor Rahmat, Kapten Toegiran, Letnan I Soediro, dan Letnan II Iskandar. Namun setelah mengetahui kekuatan Belanda yang besar, ketiga perwira tersebut tidak terlihat lagi. Sedangkan Letnan II Iskandar tertangkap di Jembatan Renville saat melaksanakan Trekbom. Ia lalu dibawa dengan kendaraan jeep ke berbagai sudut kota Kebumen sehingga banyak anggota TNI dan masyarakat yang melihatnya. Salah seorang yang melihatnya langsung adalah Letnan I Soeparman Clapar (kawan lama Letnan II D.S. Iskandar) yang semula bermaksud menumpang jeep nya yang melintas di jalan Stasiun (kini jalan Pemuda), sebelum mengetahui bahwa Letnan Iskandar duduk di samping serdadu Belanda. Setelah mengetahui keadaan, Letnan I Soeparman segera ke rumah untuk cepat – cepat memindahkan keluarganya ke Clapar. Letnan II Iskandar dibawa ke stasiun dan diangkut ke Purworejo. Setelah tiga hari di tangsi Kedung Kebo, diangkut ke Gombong dan terus ke Purwokerto pada tanggal 25 Desember 1948 di Brigade V. Setelah 17 hari ditawan di Bigade V, dengan kecerdikannya Letnan II Iskandar meloloskan diri melalui RSU Puwokerto dan melapor ke induk pasukannya (berada di gunung Sumbing).
Sasaran pertama pasukan Belanda pada waktu masuk ke kota Kebumen pada tanggal 19 Desember 1948 adalah Pabrik Mexolie/ Sari Nabati. Soewarno (pimpinan pemuda karyawan pabrik tersebut) dan dua anggota CA II Angkatan Laut serta dua karyawan pabrik yang sedang melakukan bumi hangus di pabrik tersebut tertangkap basah oleh Belanda yang begitu cepat menduduki Nabati. Soewarno dibawa ke stasiun, sedangkan empat lainnya setelah diperiksa di lapangan tenis Panjer (di utara stasiun) kemudian ditembak mati di sana.
Soewarno dibawa dengan Panser Wagon ke Purworejo. Sepanjang perjalanan ia mengalami beberapa peristiwa :
1.      Di Kepedek Kutowinangun
Di desa Kepedek sebelah timur Kutowinangun terdapat puing bekas pabrik padi (kini dipakai untuk KUD). Lima anggota AOI bersenjata kareben polisi menghadang konvoi Belanda yang membawa Soewarno dengan tembakan. Belanda membalas serangan, tiga AOI gugur dan dua lainnya menghindar ke timur. Tapi sebelum sampai di tepi kampung, mereka tertembak oleh senjata metraliur 12.7 Belanda dan gugur.

2.      Di Jembatan Butuh
100 meter sebelum Jembatan kali Butuh, terlihat seorang berlari dari kolong jembatan ke selatan melalui tanggul sungai. Belanda menembaknya dengan mitraliur 12.7 mm dan tepat mengenai sasaran. Korban adalah seorang Kopral dari Kompi Soedarsono Bismo yang ditugaskan menarik trekbom untuk memutuskan jembatan. Pemasangan trekbom dipimpin oleh Letnan II Soeparman Djliteng, Komandan Seksi I.
Soewarno diperintah NICA untuk memeriksa kolong jembatan tersebut, diikuti 10 serdadu Belanda. Di sana ada sebuah trekbom seberat 150 kg yang siap diledakkan dari jauh dengan seutas kawat. Namun karena tergesa-gesa kawat yang diikat ke detonator belum dibuka. Trekbom tersebut diangkut Belanda ke Purworejo.

3.      Di Kota Purworejo
Sekitar pukul 17.30 Wib panser wagon yang menawan Soewarno masuk kota Purworejo dan langsung menuju jembatan kali Bogowonto di Cangkrep (Purworejo Timur).

4.      Di Gedung Timur Alun – Alun Purworejo
Pada pukul 20.00 Wib Soewarno dengan jeep dibawa masuk ke sebuah gedung di timur alun – alun Purworejo (kini Markas CPM) untuk diperiksa Polisi Militer Belanda. Tengah malam ia mendengar bahwa esok pagi ia akan ditembak mati.
Pukul 01.30 Wib di belakang gedung tempat Soewarno ditahan, terdengar ledakan granat. Serdadu NICA menjadi panik. Dalam kesempatan demikian, Soewarno meloloskan diri melalui saluran got yang sampai di kali sebelah timur RSU Purworejo. Selanjutnya ia ke selatan sampai di Banyuurip dan ke barat sampai di Panjer dengan selamat pada pukul 18.00 Wib pada tanggal 20 Desember 1948.
Heru Subagyo, pejuang yang baru pulang dari Jawa Timur memutuskan untuk tidak mengungsi. Semasa kependudukan Jepang ia masuk pendidikan Heiho di Batavia dan kemudian ditempatkan di Jawa Timur. Pasca bubarnya Heiho ia menggabungkan diri dengan para pejuang lainnya di Jawa Timur. Beberapa hari menjelang Agresi Militer Belanda II, Heru pulang ke Kebumen karena mendapat berita bahwa ayahnya yang juga kawan pergerakan Soekarno (di tahun 1930 an) ditahan Belanda di Cilacap. Ia dan keluarga bertahan dengan makanan seadanya berupa pisang dan singkong yang ia simpan di dalam rumahnya yang berada di jalan Garuda (masuk ke selatan). Pada awalnya keberadaan Heru tidak diketahui Belanda sehingga ia dapat melihat keadaan kota Kebumen dari bilik – bilik WC/Kakus yang ada di tepian saluran air (kini trotoar jalan pemuda sebelah timur). Hotel Pusaka Panjer digunakan Belanda sebagai markas KL (Koninklijk Landmacht), Perumahan Mess dan Pabrik Mexolie/Sarinabati dijadikan Asrama KL sedangkan Gedung Bunder (kini depan Hotel Putra) digunakan untuk markas KNIL (Koninklijk Nederlansch Indisch Leger). Pemuda – pemuda Kebumen yang tertangkap Belanda saat mengadakan patroli dibawa ke markas KNIL di Gedung Bunder, selanjutnya mereka dibawa ke KL. Setelah dari KL mereka disuruh lari menuju jembatan Tembana diikuti tentara Belanda bernama Mahani yang menggunakan sepeda dan membawa senjata. Setelah sampai di Tembana mereka pun dieksekusi.
Berbeda dengan tawanan kota Kebumen, tawanan yang tertangkap Belanda dari daerah lain saat patroli hingga ke pelosok seperti Sruni, Petanahan, dsb, baik itu TNI, Laskar pejuang ataupun warga yang dicurigai sebagai mata – mata, semua dibawa ke Pabrik Mexolie/Sarinabati dan kemudian di eksekusi di tempat tersebut. Adapula yang kemudian digiring ke Jembatan Renville dan kemudian dieksekusi di sana sehingga banyak didapati mayat yang mengambang di muara sungai Luk Ula. Mahani adalah eksekutor ternama di Kebumen, layaknya Berlin di Kemit.
Lambat laun Belanda pun mengatahui keberadaan rumah yang masih berpenghuni itu. Heru Subagyo digiring Belanda ke markas KNIL. Di sana dia tidak sendiri. Ada dua pemuda lain yang dicurigai sebagai mata – mata telah ditangkap. Setelah diinterogasi keduanya pun segera dibawa ke markas KL (di Hotel Pusaka) dan kemudian dieksekusi oleh Mahani di jembatan Tembana. Keajaiban Tuhan dialami Heru. Dia yang akan dikirim ke KL tiba – tiba dilarang oleh Komandan KNIL sebagai pimpinan di Gendung Bunder. Ternyata ketika melihat Heru sang Komandan teringat akan anaknya di Belanda yang usianya sebaya. Heru kemudian dimasukkan kembali ke Gedung Bunder dan disuruh memanggil seluruh keluarganya di rumah. Keempat adiknya yang masih kecil pun berjajar bersama Heru. Akhirnya Heru diantar pulang oleh Komandan KNIL dan diperlakukan sebagaimana anaknya sendiri. Bahkan sering kali Komandan KNIL tersebut mengantar makanan sendiri untuk Heru dan keluarganya.
Jaminan keamanan menjadikan Heru lebih leluasa mengamati peristiwa pertempuran di Kebumen. Salah satunya adalah penyerangan markas KNIL di Gedung Bunder oleh Pejuang dari berbagai Laskar antara lain Moh. Dimyati (Hisbullah; mantan pegawai SMPN 5 Kebumen) yang bersama anggotanya melakukan penyerangan jarak dekat dari Balai Desa Kebumen yang kemudian mereka bumi hanguskan. Luka tembak Dimyati karena penyerangan itu dibawanya hingga tua.

Penyerahan Kekuasan dari Pihak Belanda kepada Pihak RI di Kebumen
Keberhasilan SU 1 Maret 1949 dilanjutkan dengan langkah diplomasi pada tanggal 23 Agustus 1949 dengan diadakannya Konfrensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag untuk membicarakan masalah Penyerahan Kekuasaan Balanda kepada Indonesia. Dengan pertimbangan yang cukup bijaksana dan matang, akhirnya pemerintah RI menerima Naskah Persetujuan KMB yang sebetulnya sangat merugikan, dimana di dalamnya dinyatakan adanya negara RIS, APRIS, dan masalah Irian Barat yang penyelesaiannya secara menyeluruh baru akan dibicarakan di kemudian hari. Hari penyerahan kekuasaan dari Belanda kepada RIS ditetapkan pada tanggal 27 Desember 1949.

Di Gombong
Upacara penyerahan kekuasaan dilangsungkan di persimpangan jalan Cilacap-Yogyakarta-Sempor pada tanggal 17 Oktober 1949. Pihak Belanda diwakili antara lain oleh:
  1. Letkol Beets (Komandan Garnizoen Gombong)
  2. Letnan I Joepen (Ajudan Komandan)
  3. R. Soepardo (Wedana NICA)
  4. Achmad (Asisten Wedana NICA)
  5. Sapari (Juru Tulis Kawedanan NICA)

Pihak RI diwakili oleh:
  1. Kapten Soegiono (Komandan Kompi Batalyon Pendawa)
  2. Letnan II Purwosasmito
  3. Letnan Muda Soemarto
  4. Serma Achmad Baseri
  5. Sersan Oentoeng Soetomo
  6. Sersan Agoes

Di Kebumen
Upacara penyerahan kekuasaan dilangsungkan di persimpangan jalan Karanganyar-Yogyakarta-Karangsambung (Mertakanda) pada tanggal 17 Oktober 1949. Pihak RI diwakili oleh Letnan I Moeklis (Komandan Kompi Batalyon Pendawa) sedangkan pihak Belanda diwakili oleh Komandan KL setempat.

Sementara itu, Komandan Brigade IX/WK II Kedu Letnan Kolonel Achmad Yani mengadakan inspeksi di Kedu Selatan, bersama tiga orang perwira KTN masing-masing dari Amerika, Belgia, dan Australia untuk menyaksikan acara serah terima tersebut di Pituruh, Kutoarjo, dan Purworejo.

Upacara serah terima secara resmi untuk wilayah Jawa Tengah dilangsungkan di kota Semarang pada tanggal 27 Desember 1949. Pihak RI diwakili oleh Kolonel Gatot Soebroto Panglima Divisi III/Diponegoro merangkap Gubernur Militer Jawa Tengah. Sedangkan pihak Belanda diwakili oleh Jenderal Mollinger Panglima Divisi KL untuk Jawa Tengah.

Tugu dan Jalan Renville serta Perlunya Pelurusan Sejarah
Untuk memperingati peristiwa Agresi Militer Belanda II tersebut, di timur Jembatan Renville dibangun tugu Renville dan jalan dari barat jembatan kereta api hingga di samping Gereja Panjer dinamakan Jalan Renville. Tugu itu awalnya bertuliskan Huruf Jawa dan Huruf Latin dengan bunyi yang sama “DI SINI AKU MATI UNTUK IBU PERTIWI, HARAPANKU BERBAHAGIALAH NUSA BANGSAKU” Satu hal yang sangat disayangkan adalah adanya pengubahan dan kesalahan prasasti pasca renovasi tugu. Dimana tulisan di atas tersebut dihilangkan dan diganti dengan “BUMI HANGUS DAN PENGHANCURAN VITAL OLEH PEJUANG KEMERDEKAAN SEBAGAI JAWABAN PENGKHIANATAN PERJANJIAN RENVIL TH 1947 OLEH BELANDA” Ada beberapa kesalahan dalam tulisan tersebut yakni “RENVILLE” yang ditulis “RENVIL” dan tahun 1947, karena perjanjian Renville diadakan pada tahun 1948. Jalan Renville pun diubah menjadi jalan Es Bening dan kemudian berubah lagi menjadi jalan Gereja hingga kini. Sangat diperlukan tindakan segera dari pihak – pihak yang mempunyai wewenang untuk memperbaiki/meluruskan dan mengembalikan tulisan prasasti serta nama jalan agar generasi penerus tidak terlanjur menjadi salah dalam memahami sejarah bangsa.
Salam Pancasila.!
Oleh : Ravie Ananda
Kebumen, Minggu Kliwon 26 mei 2013
Sumber:
– Gelegar di Bagelen
– Perang Kemerdekaan Kebumen Tahun 1942 – 1950; Depdikbud Dirjen kebudayaan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta 1986
– Wawancara dengan saksi sejarah Heru Subagyo (Kepala Bagian Produksi Mexolie/Sarinabati masa kemerdekaan), Panjer 23 Mei 2013